Ayo tuangkan ide dan tunjukkan kemampuan menulismu di Lomba Kreasi Cerpen Femii, Sahabat! Menangkan hadiah jutaan rupiah dan raih kesempatan menerbitkan tulisanmu menjadi buku kumpulan cerpen oleh NulisBuku.com. Jika kamu memiliki pertanyaan seputar teknis lomba, klik link syarat dan ketentuan di bawah ini!
Nyanyian Masa Depan
by: Hanhan268

Femii bangun pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari terbit dan burung gereja berkicau. Hari ini adalah hari besar yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Dari semalam, Femii sudah menyiapkan baju, alat tulis, serta beberapa 'peralatan perang' untuk menghadapi pertempuran hari ini. Tepat pukul 6 pagi, Femii sudah siap berangkat.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba wajah Femii menjadi pucat dan muncul keringat dingin. Ayah Femii memperhatikan perubahan tiba-tiba pada anak perempuannya.

"Kamu kenapa?"

"Nggak apa-apa, Yah. Hanya sedikit nyeri haid hari pertama," jawab Femii sambil meringis kesakitan.

"Kamu sudah minum obat, kan?"

Femii menggeleng.

"Ya udah, kita belok ke apotek dulu ya."

"Nggak usah, Yah. Nanti telat ke audisi sekolah musik. Waktunya sudah mepet."

"Kan masih ada waktu sampai sore untuk audisi."

"Kalau ikut audisi sore, berarti aku nggak bisa datang wawancara sekolah unggulan." Femii menunduk lesu. Dia sedang dalam dilema, mengikuti audisi sekolah musik dambaannya atau sekolah unggulan seperti yang diinginkan orang tuanya. Dia sudah mempersiapkan diri untuk ikut keduanya hari ini.

"Kalau kamu paksakan, hasilnya jadi nggak maksimal dua-duanya. Lebih baik korbankan salah satu tapi hasilnya maksimal," kata Ayah Femii.

Femii berpikirkeras, menentukan pilihan.

Lalu teringat sebuah pepatah dan berkata, "Tapi, kalau nggak dicoba kita nggak akan tahu hasilnya."

Ayah Femii terperangah dengan keputusan Femii. "Asalkan kamu masih kuat dan tetap rileks."

Femii langsung mencari cara untuk mengurangi nyeri itu. Mulai dari menggigit bibir sampai menepuk-nepuk perutnya. Setelah sampai, dia tak mampu lagi menyembunyikan rasa sakitnya.

"Kamu yakin?" tanya Ayah Femii khawatir.

"Ayah, kesempatan dan keberuntungan kan nggak bisa diramal," jawab Femii sambil melihat sekeliling.

"Mungkin di sana tempat registrasi-nya. Bentar Ayah ke sana, sedangkan kamu istirahat dulu di bangsal ya," kata Ayah Femii sambil menunjuk kerumunan pendaftar di sekitar lobi.

Femii mengangguk. Dia segera berlariĀ tak tentu arah dan terhenti ketika seorang wanita berwajah ramah menghalaunya.

"Mau ke mana? Ruang audisi di sebelah loh."

Femii bertambah pucat, membayangkan tampil dalam kondisi seperti ini.

"Belum, perut saya sakit," jawab Femii dengan mata berair.

"Oh, masuk angin? Diusap aja sama minyak telon. Mau saya ambilkan?"

"Bukan Bu, lagi nyeri haid."

Seketika wanita itu berdecak lidah dan menarik lembut Femii.

"Maaf, kalau ini bisa membuatmu telat audisi. Tapi kalau makin sakit jangan dibiarkan," kata wanita itu ketika mereka melewati pintu bangsal. Lalu pamit setelah menitipkan Femii bersama perawat sekolah.

"Halo, peserta audisi bukan? Ada keluhan apa?" tanya sang perawat.

"Masalah haid," jawab Femii pelan.

Sang perawat tersenyum, segera menuju boks farmasi. Lalu kembali dengan se-kaplet tablet Feminax, secangkir teh, dan sebotol minyak angin. "Kita harus tunggu obatnya bekerja. Nomor urut kamu berapa?"

"Belum tau."

Sang perawat menyodorkan Feminax dan cangkir teh. "Ayo, diminum. Biasanya saat haid lebih mudah masuk angin. Nah, pakai minyaknya juga."

Belum sempat berterima kasih, Femii mendapat tamu mendadak lagi.

"Femii sudah baikan? Giliran kamu tinggal 20 nomor lagi dan setelah breakĀ sebentar," kata Ayah Femii yang tertular gugup di balik pintu.

Sang perawat langsung mempersilakan mereka bertemu. Hampir tiba waktunya dipanggil, serangan nyeri yang dirasakan Femii kemudian berangsur hilang akibat reaksi obat tersebut. Sekejap, Femii bangkit dari kasur dan menyatakan siap bertempur.

"Yuk berangkat, Yah."

"Loh, memangnya sudah betul pulih?"

Femii tertawa riang, kekhawatirannya berganti lega. Sebelum mengantri di ruang tunggu, sang perawat memberinya sisa pereda nyeri haid yang dikonsumsinya tadi.

"Bernyanyilah untuk masa depanmu," dukung sang perawat.

Femii membalas dengan mengacungkan jempol. Meski ruangan cukup sunyi karena hanya tersisa beberapa orang, dia memanfaatkan setiap detik itu untuk berlatih bersama ukulele-nya. Maka, proses audisi pun berjalan baik.

"104," seru sebuah suara.

Femii terlonjak dan menyusul suara itu ke ruang juri. Ayah Femii membekalinya sebuah pelukan hangat serta doa keberhasilan. Sementara di dalam, para juri tak henti menguap.

"Sedikit lagi pertengahan hari," kata seorang juri tak sabar.

"Sabarlah, mungkin kali ini cocok," sahut juri lain.

Femii sukses menguasai diri sekaligus musiknya. Hingga suasana kaku mulai lenyap begitu dia memainkan lagu ciptaannya. Semua juri memandangnya dengan tertarik.

Bahkan termasuk juri yang tadinya hampir tertidur sekalipun. Selesai penjurian, Ayah Femii dikejutkan oleh sepasang tangan melingkar di pinggangnya yang ternyata berasal dari Femii.

"Aku bisa, Yah. Penampilanku lancar!" teriak Femii semangat.

Ayah Femii tertawa sambil menggandeng Femii menuju mobil, bersiap untuk seleksi selanjutnya di sekolah unggulan.