Ayo tuangkan ide dan tunjukkan kemampuan menulismu di Lomba Kreasi Cerpen Femii, Sahabat! Menangkan hadiah jutaan rupiah dan raih kesempatan menerbitkan tulisanmu menjadi buku kumpulan cerpen oleh NulisBuku.com. Jika kamu memiliki pertanyaan seputar teknis lomba, klik link syarat dan ketentuan di bawah ini!
Nyanyian Masa Depan
by: Claudia234

Femii bangun pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari terbit dan burung gereja berkicau. Hari ini adalah hari besar yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Dari semalam, Femii sudah menyiapkan baju, alat tulis, serta beberapa 'peralatan perang' untuk menghadapi pertempuran hari ini. Tepat pukul 6 pagi, Femii sudah siap berangkat.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba wajah Femii menjadi pucat dan muncul keringat dingin. Ayah Femii memperhatikan perubahan tiba-tiba pada anak perempuannya.

"Kamu kenapa?"

"Nggak apa-apa, Yah. Hanya sedikit nyeri haid hari pertama," jawab Femii sambil meringis kesakitan.

"Kamu sudah minum obat, kan?"

Femii menggeleng.

"Ya udah, kita belok ke apotek dulu ya."

"Nggak usah, Yah. Nanti telat ke audisi sekolah musik. Waktunya sudah mepet."

"Kan masih ada waktu sampai sore untuk audisi."

"Kalau ikut audisi sore, berarti aku nggak bisa datang wawancara sekolah unggulan." Femii menunduk lesu. Dia sedang dalam dilema, mengikuti audisi sekolah musik dambaannya atau sekolah unggulan seperti yang diinginkan orang tuanya. Dia sudah mempersiapkan diri untuk ikut keduanya hari ini.

"Kalau kamu paksakan, hasilnya jadi nggak maksimal dua-duanya. Lebih baik korbankan salah satu tapi hasilnya maksimal," kata Ayah Femii.

Femii berpikirkeras, menentukan pilihan.

Femii menyukai musik, terutama menyanyi. Baginya, musik sudah menjadi hidupnya. Keseriusannya pada dunia musik ini dibuktikannya dengan mengikuti les vokal dan piano. Sesekali, Femii sering mengikuti kompetisi menyanyi untuk mengadu kemampuannya menyanyinya dibanding peserta lain.
Sekolah musik adalah salah satu imipian yang paling ingin Femii capai. Dengan masuk di sekolah tersebut, Femii berharap kemampuan musiknya semakin terasah. Dia sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk audisi ini. Femii tidak rela jika mimpinya selama bertahun-tahun ini harus hancur hanya karena dismenorea (nyeri haid) yang dirasakannya.
“Yah, kita terus aja. Femii mau ikut audisi sekolah musik,” Femii akhirnya mengambil keputusan. “Tapi muka kamu udah pucet banget, Femii. Kamu nggak mungkin nyanyi di depan orang dengan kondisi seperti ini.” “Femii nggak pa-pa kok, Yah.”
“Lalu wawancaranya?” “Femii juga bakalan dateng ke wawancaranya, Yah,” Femii berusaha meyakinkan ayahnya, walapun dia sendiri ragu melihat kondisinya saat ini. Sejujurnya Femii tidak ingin disuruh memilih antara sekolah musik dan sekolah unggulan. Keduanya sama-sama baik bagi Femii. Femii sadar bahwa dia memang memiliki keinginan yang besar untuk menjadi seorang musisi. Tetapi dia juga tau bahwa dia tidak boleh melupakan pentingnya bidang akademik bagi dirinya. Kedua hal ini penting bagi Femii. Ini persoalan masa depan. Bagaimana Femii ke depannya, akan jadi apa dia nanti, hidupnya ditentukan hari ini juga. Dan oleh karena itu dia tidak mau melewatkan keduanya. Entah kemana akhirnya pilihan Femii akan jatuh, yang terpenting saat ini adalah Femii harus berusaha terlebih dahulu. Femii tidak mau kalah sebelum berperang. Sepanjang perjalanan, Femii berusaha untuk menahan rasa sakitnya. Dia berandai-andai kalau saja dia lagi di rumah saat ini, pasti dia sudah minum air hangat untuk meredakan rasa nyerinya. Tapi di dalam situasi seperti ini, Femii harus mencari air hangat dimana? Femii berpikir keras hingga akhirnya dia teringat suatu hal. Beberapa minggu yang lalu, temannya Femii juga mengalami hal yang sama. Waktu hari pertama haid, teman Femii itu mengalami nyeri haid dengan gejala yang hampir sama dengan dirinya. Keringat dingin, pucat, tidak bisa bergerak sama sekali, bahkan hingga pingsan. Sampai-sampai temannya harus diantar pulang ke rumah. Dan nyeri haid seperti ini bukan satu pertama kalinya dialami temannya Femii. Hampir setiap haid dia merasakan kesakitan yang luar biasa hebat. Tapi sejak minum Feminax, nyeri haid yang dirasakannya dapat teratasi. “Yah, nanti kita lewat swalayan tempat kita biasa belanja kan?” kata Femii tiba-tiba. “Iya, memangnya kenapa?” Ayah balik bertanya. “Femii mau beli obat, Yah.” “Lho? Memangnya ada? Kamu tau obatnya apa?” “Ada kok. Namanya Feminax, Yah. Feminax ini aman. Jadi dijual bebas. Selain di apotek, Femii pernah liat juga di swalayan.” Sesampainya di swalayan. Ayah Femii membuka pintu mobil, lalu keluar. Tetapi Femii yang sudah tidak tahan lagi menahan rasa sakitnya, akhirnya tetap berada di mobil. Ayah kemudian menghampiri Femii. “Kamu nggak mau turun?” “Nggak, Yah. Femii tunggu di sini aja.” “Kan udah Ayah bilang tadi nggak usah dipaksain. Kamu masih aja keukeuh.” “Nggak pa-pa, Yah. Kalo udah minum Feminax juga pasti Femii langsung sehat.” “Haduh kamu ini. Ya udah Ayah beli dulu ke dalem.” Beberapa saat kemudian. “Ini obatnya,” Ayah menyodorkan beberapa strip Feminax kepada Femii. Femii segera minum obat yang diberikan ayahnya. “Masih mau lanjut nih?” tanya ayah Femii. “Masih dong,” jawab Femii dengan yakin.
Ayah Femii hanya bisa menghela nafas panjang melihat kelakuan anaknya. Ayah Femii tau benar jika anaknya menginginkan sesuatu, dia akan berusaha keras semaksimal mungkin. Ayah Femii juga tidak bisa menghentikan anaknya. Walapun sebenarnya Ayah Femii mengingkan agar anaknya masuk di sekolah unggulan, tapi dia tidak mau membatasi keinginan anaknya sendiri. Toh Femii sudah cukup dewasa untuk memilih. Jadi Ayah Femii tidak mau ikut campur terlalu jauh. Di perjalanan, perlahan rasa sakit yang Femii rasakan semakin berkurang. Hingga sesampainya di tempat audisi, Femii sudah merasa benar-benar sehat kembali. Untung saja ada Feminax. Femii bisa stay active dan ikut audisi dengan keadaan yang sudah membaik. Femii melihat orang-orang yang sudah terlebih dahulu berada di tempat audisi. Semuanya kelihatan benar-benar matang untuk mengikuti audisi ini. Tapi hal ini tidak menyurutkan semangat Femii. Seperti lagu yang akan Femii bawakan, lagu When You Believe, siapa yang tau bukan apa yang akan Femii dapatkan nanti? ‘When you believe somehow you will. You will when you believe.’ Benar bukan? Setidaknya Femii sudah berusaha. Mengenai hasilnya? Biarlah Tuhan yang menentukan.