Ayo tuangkan ide dan tunjukkan kemampuan menulismu di Lomba Kreasi Cerpen Femii, Sahabat! Menangkan hadiah jutaan rupiah dan raih kesempatan menerbitkan tulisanmu menjadi buku kumpulan cerpen oleh NulisBuku.com. Jika kamu memiliki pertanyaan seputar teknis lomba, klik link syarat dan ketentuan di bawah ini!
Sahabat Terbaik
by: NinaM

Hari Minggu pagi yang cerah ini seharusnya adalah waktu yang menyenangkan untuk olahraga bersama sahabat terdekat. Sayangnya, hari ini Femii sedang tidak enak badan, perut dan punggungnya nyeri karena haid. Dia juga sedang bertengkar dengan sahabat terbaiknya, Salma. Setelah peristiwa satu minggu yang lalu, mereka sudah nggak bertegur sapa sama sekali.

Femii sedang berbaring di tempat tidur, saat bel pintu rumahnya berbunyi. Tak lama kemudian, ibu masuk ke kamar Femii memberitahukan bahwa ada seseorang datang menjenguk. Femii beranjak dari tempat tidur untuk menyambut tamu tersebut. Aldi tersenyum, di balik punggung ibu. Dia membawa beberapa buah tangan. Bukannya senang karena ada yang menjenguk, Femii justru cemberut.

"Semoga lekas sembuh ya, Femii," Aldi memberi salam ramah. "Kemarin di kelas sepi nggak ada kamu."

"Terima kasih Aldi. Aku senang kamu menjenguk dan mendoakanku. Sayangnya, aku nggak suka jika Salma sedih dan marah kepadaku karena tahu kamu menjengukku."

Aldi tampak kebingungan mendengar jawaban Femii, "Kenapa Salma harus marah?"
Femii hanya terdiam, meski menit-menit berlalu. Haruskah dia memberitahu apa yang sebenarnya terjadi? Tentang peristiwa yang membuat hubungannya dengan Salma menjadi renggang. Dia begitu ragu, namun masalahnya tidak akan pernah selesai jika dia tetap diam.
"Ada apa, Fem? Ayo katakan!"
"Baiklah, aku akan menjelaskannya. Silahkan masuk!"
Suasana tidak enak dirasakan Aldi. Wajahnya berubah panik. Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya. Hingga Femii memulai pembicaraan.
"Seminggu yang lalu saat kamu menyatakan perasaanmu padaku di taman sekolah, Salma melihatnya. Dia sangat marah karena laki-laki yang dia sukai malah menyukaiku."
"Salma? Menyukaiku?" Aldi tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, "Apa karena itu kamu tidak menerima cintaku?"
Femii mengangguk, "Dia begitu terpesona saat melihat kamu menjadi MC di acara sekolah beberapa minggu yang lalu. Sejak hari itu, hanya kamu yang dia harapkan. Dia selalu mengingat segala peristiwa yang berhubungan dengan kamu dan menceritakannya padaku."
"Itu artinya, aku penyebab kalian bertengkar?" Rasa bersalah berterbangan diatas kepala Aldi, "Maafkan aku Femii, sungguh, aku tidak pernah berniat untuk memisahkan kalian."
"Tidak, jangan meminta maaf. Cinta itu tidak bisa disalahkan. Cinta datang dan pergi tanpa kita pinta. Lantas, pantaskah kita menyalahkannya? Jatuh cinta itu hal yang wajar, hanya keadaannya saja yang tidak mendukung. Mungkin ini cobaan untuk persahabatan aku dan Salma."
Ibu muncul dengan baki berisi segelas air putih dan satu toples kue kering.
"Tidak usah repot-repot, Bu." Aldi merasa tidak enak.
"Tidak, silahkan dicicipi! Jarang-jarang loh, Femii kedatangan tamu laki-laki." Senyum Ibu seakan menggoda Femii yang memang hampir tidak pernah membawa laki-laki ke rumah, kecuali untuk mengerjakan tugas sekolah.
Femii menarik nafas, kemudian melanjutkan perkataannya, "Lebih baik, kamu jauhi aku."
Aldi menatap Femii pilu, begitu berat untuk mengiyakan satu permintaan itu, padahal selama ini Femii tak pernah meminta apapun darinya.
"Aku mohon, Aldi. Mengertilah..."
Lelaki itu menarik nafas dalam. Sampai kapanpun perpisahan selalu menjadi hal terburuk baginya, begitupun perpisahan dengan seorang teman, teman yang tanpa sadar telah memasuki relung hati. "Baiklah, jika menurut kamu itu yang terbaik, aku akan melakukannya."
Femi hanya terdiam, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Salma beruntung memiliki sahabat seperti kamu,"
"Kalau begitu, aku pamit pulang, Fem." Aldi meninggalkan Femii yang tak berani menunjukan wajahnya, hanya terlihat satu anggukan kecil dari kepala yang menunduk.

Keesokan harinya.
Waktu menunjukan pukul 06.30 pagi, Femii bersiap untuk berangkat sekolah. Walau nyeri perut dan punggungnya sudah hilang berkat feminax yang dikasih Ibu, wajahnya masih saja tampak kusut, persoalan yang tengah menghampirinya tak juga mau pergi dari ingatan.
Pintu gerbang sekolah sudah di depan mata. Namun sosok perempuan berambut panjang mengalihkan perhatiannya. Tampaknya Femii belum pergi dari hati Salma, pita biru yang mengikat rambut Salma menjadi buktinya. Masih teringat dengan jelas, saat dengan penuh kasih sayang Femii memilihkan pita itu.
"Salma!" Teriak Femii dari balik punggungnya.
Salma menoleh, lalu bersikap tak peduli saat menyadari Femii berada di belakangnya.
Namun Femii tak hilang akal. Dia terus mengikuti dengan mulut tak henti berbicara, mencoba kembali menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka.
Salma tetap diam, bahkan tak sekalipun tatapannya melintasi wajah Femii, hingga akhirnya suara Femii menghilang. Kalimat terakhir yang terdengar adalah: Aku ingin tetap menjadi sahabatmu.
Dalam diam, hati Salma bergejolak. Apakah dia telah bersikap berlebihan? Dia begitu merindukan sahabatnya, dia juga merasa khawatir karena kemarin Femii tidak masuk sekolah. Tapi peristiwa seminggu yang lalu begitu menyakiti hatinya.
Seseorang menghampiri Salma dengan memberikan sebuah buku diary berwarna pink, warna favorit Femii. "Tolong kasih Femii ya, tadi terjatuh dari tasnya." Ternyata persahabatan mereka begitu terkenal.

Sepasang kaki melangkah diatas rerumputan yang hijau. Terhenti di depan kursi besi yang diduduki oleh Femii. Terlintas rasa terkejut ketika Salma duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya?"
"Apa yang tidak kukatakan, Sal? Aku sudah menjelaskan semuanya padamu."
"Semua, tapi tidak dengan yang ada di buku diary ini." Salma menunjukan buku diary itu.
"Da-dari mana kamu mendapatkannya?"
"Itu tidak penting. Kenapa kamu tidak bilang kalau selama ini kamu menyukai Aldi? Bahkan jauh lebih dulu sebelum aku."
Cukup lama Femii hanya terdiam. Dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Salma.
"Dari sekian banyak laki-laki yang menyukai kamu, tak ada yang bisa menyentuh hati kamu selain Aldi. Dan karena ketidaktahuanku, aku malah ingin merebutnya darimu."
"Tidak, Salma. Jangan berpikir begitu."
"Jangan hanya memikirkan kebahagiaanku saja, Femii. Sudah cukup! Sekarang temui Aldi dan katakan bahwa kamu juga menyukainya."
Femii mengangguk pelan. Tetesan hujan jatuh dari mata keduanya. Mereka saling berpelukan.