Ayo tuangkan ide dan tunjukkan kemampuan menulismu di Lomba Kreasi Cerpen Femii, Sahabat! Menangkan hadiah jutaan rupiah dan raih kesempatan menerbitkan tulisanmu menjadi buku kumpulan cerpen oleh NulisBuku.com. Jika kamu memiliki pertanyaan seputar teknis lomba, klik link syarat dan ketentuan di bawah ini!
Salah Sangka
by: irizka17

Petir menggelegar. Hujan deras mengguyur. Femii menggigil kedinginan, sambil menggerutu kesal dalam hati. Ada dua hal paling sulit untuk diatasi di dunia ini, setelah ujian Fisika menurut Femii, yaitu nyeri haid dan berhadapan dengan orang yang jutek. Kali ini Femii mengalami hal sulit itu sekaligus!

"Gara-gara kamu nyeri haid sih, kita jadi terjebak kehujanan di sini. Kalo enggak kan kita bisa jalan lebih cepat kepemukiman penduduk," cerca Benny.

"Maaf," Femii hanya bisa menjawab singkat. Dia sedang meringkuk di bawah rimbunan pohon karena menahan nyeri haid.

"Sebentar lagi matahari terbenam. Masa mau nginep di hutan sih? Kamu menghambat aja ah," masih dengan nada marah, Benny kembali ngomel-ngomel.

Femii kemudian bangkit untuk memberi pengertian. "Aku nggak mengeluh saat menemanimu memeriksa tanda yang salah dan akhirnya malah kesasar. Seharusnya kita pecahkan masalah ini bersama. Kita berdua tersesat dan tidak membawa perbekalan yang cukup."

"Iya, trus gimana dong? Mau lanjut jalan tapi katamu perutmu nyeri sekali. Mau tetap berteduh nunggu hujan reda, nanti kemalaman di hutan."

Femii menghela napas panjang sebelum menjawab.

"Baiklah, ayo kita pergi. Aku bisa menahan rasa nyeri ini" Femii berjalan mendahului Benny. Tangannya terus memegangi perutnya yang memang masih terasnya nyeri akibat haid.

Langit mulai berubah menjadi hitam pekat. Hujan yang tak kunjung usai terus membasahi Benny dan Femii untuk keluar dari hutan. Petir yang menggelegar terus menari diatas langit hitam. 

Benny perlahan berjalan dibelakang Femii. "Kamu tau jalannya Fem ?" Benny ragu akan jalan yang dipilih Femii.

"Iya tau. Itu lihat ada tanda panah. Mungkin itu petunjuk. Ayo cepat kita mendekat. Perut ku mulai nyeri lagi nih" Femii berjalan cepat untuk mendekati anak panah yang menempel di pohon. 

"Iyaa Fem, arahnya kesana. Ayo cepat kita hampir sampai" Benny nampak senang. Raut wajahnya seketika berubah cerah.

"Tunggu Benn. Perut ku tak sanggup lagi untuk berjalan. Rasanya sakit sekali" Femii kembali meringkuk dibawah pohon.

"Ahh kamu ini. Sini aku gendong untuk sampe di perkemahan" Benny dengan sigap mengangkat Femii yang memang menahan rasa nyeri diperutnya. "Pegangan. Nanti jatoh"

Femii yang tak berdaya. Hanya bisa menuruti kata kata Benny. 

Setibanya di perkemahan. Para guru menunggu kedatangan mereka berdua. Semua cemas karna hujan yang lebat dan tak kunjung usai dapat menyesatkan mereka didalam hutan. Akan tetapi mereka lega karna melihat Femoo dan Benny baik-baik saja ketika keluar dari hutan.

"Loh Ben. Kamu apakan Femii ?" Tanya seorang guru. 

"Engga kok bu. Ini Femii lagi haid. Perutnya nyeri. Jadi saya gendong aja biar cepat" Benny menurunkan Femii ke kasur yang telah disediakan. "Jangan salah sangka dulu dong bu. Saya kan anak baik-baik"

"Iya ibu minta maaf" guru itu tersenyum dan memberikan secankir teh hangat untuk mereka berdua. 

Hujan yang lebat seketika terhenti. Hembusan angin malam yang dingin seketika membuat tulang ikut terasa dingin. Anak-anak kembali ketenda masing-masing untuk melanjutkan aktifitasnya esok pagi.

Femii yang masih menahan nyeri diperutnya. Mulai ikut memejamkan matanya untuk beristirahat.