Ayo tuangkan ide dan tunjukkan kemampuan menulismu di Lomba Kreasi Cerpen Femii, Sahabat! Menangkan hadiah jutaan rupiah dan raih kesempatan menerbitkan tulisanmu menjadi buku kumpulan cerpen oleh NulisBuku.com. Jika kamu memiliki pertanyaan seputar teknis lomba, klik link syarat dan ketentuan di bawah ini!
Salah Sangka
by: escritorul

Petir menggelegar. Hujan deras mengguyur. Femii menggigil kedinginan, sambil menggerutu kesal dalam hati. Ada dua hal paling sulit untuk diatasi di dunia ini, setelah ujian Fisika menurut Femii, yaitu nyeri haid dan berhadapan dengan orang yang jutek. Kali ini Femii mengalami hal sulit itu sekaligus!

"Gara-gara kamu nyeri haid sih, kita jadi terjebak kehujanan di sini. Kalo enggak kan kita bisa jalan lebih cepat kepemukiman penduduk," cerca Benny.

"Maaf," Femii hanya bisa menjawab singkat. Dia sedang meringkuk di bawah rimbunan pohon karena menahan nyeri haid.

"Sebentar lagi matahari terbenam. Masa mau nginep di hutan sih? Kamu menghambat aja ah," masih dengan nada marah, Benny kembali ngomel-ngomel.

Femii kemudian bangkit untuk memberi pengertian. "Aku nggak mengeluh saat menemanimu memeriksa tanda yang salah dan akhirnya malah kesasar. Seharusnya kita pecahkan masalah ini bersama. Kita berdua tersesat dan tidak membawa perbekalan yang cukup."

"Iya, trus gimana dong? Mau lanjut jalan tapi katamu perutmu nyeri sekali. Mau tetap berteduh nunggu hujan reda, nanti kemalaman di hutan."

Femii menghela napas panjang sebelum menjawab.

“Aku perlu obat penghilang nyerinya. Tapi masalahnya, obatku ada di ransel kecil yang ketinggalan di tenda. Jujur aku nggak kuat jalan lagi, tapi kalau kamu bersikeras mau pergi, yasudah sana.” Femii berucap jujur, membicarakan kecerobohannya pada Benny yang super galak dan jarang bersikap toleran adalah pantangan yang tidak boleh dilanggar Femii. Benny akan meledak-ledak terlebih pada suasana yang mengharuskan mereka keluar hutan secepatnya dan mencari tempat aman untuk berlindung sebelum hutan menjadi gelap.Benny melirik sebal Femii dan berkacak pinggang. “Apa memang suatu kesalahan, ya, membiarkan kamu gabung dengan kelompokku? Kalau gitu, guru-guru melakukan kesalahan dong, ya?”Sambil menahan nyeri, Femii menunjukan ketidaksukaan karena Benny secara tidak langsung menganggapnya pembawa sial. “Kita kesasar juga, kan, karena kamu. Demi lihat burung hutan itu dari dekat, kamu nggak sadar berjalan menjauh dari rombongan lalu aku mengejarmu, takut kamu kesasar. Tapi malah kesasar berdua. Mau tetep ngomelin aku? Aku boleh nyesel dong, ya, sekarang karena udah cukup murah hati sama kamu. Dan kalau kamu merasa nyawamu tengah terancam di hutan seluas ini, nyawaku juga terancam karena kamu. Boleh nyesel dong, ya, aku sekarang?!”Femii itu tipikal murid pintar yang tidak terlalu banyak bicara. Femii acap kali kompak hanya dengan beberapa kelompok teman yang ia anggap menyenangkan untuk saling berbagi wawasan dengan obrolan yang berbobot. Femii juga mudah memaafkan dan tidak temperamental. Femii diibaratkan seperti harimau, kalau tidak lapar dan tidak diganggu, tidak akan mengamuk.“Maaf, aku nggak tahu.” Sesal Benny merasa bersalah dan salah sangka. Ia sekarang memilih duduk di samping Femii dan menawarkan air minum yang tersisa setengah botol. “Minum dulu,” tawarnya. “Apa kamu selalu kesakitan begini setiap kali menstruasi? Kenapa maksa ikutan kemah kalau kamu tahu kejadiannya bakalan begini?”Femii mengembalikan botol minum pada Benny setelah menengguk isinya. “Haid pertamaku memang sesakit ini. Suka lupa sama kalender menstruasi sendiri, jadi datangnya serasa tiba-tiba. Ini juga pas tadi pagi, kok, persis ketika kita baru turun dari bis.”Benny mengangguk paham. “Terus, apa yang bisa aku lakukan di hutan seluas ini supaya kamu nggak kesakitan lagi? Obatmu, kan, ketinggalan.”Femii mengeleng. “Aku pikir nggak ada. Ini, tuh, semacam reaksi saja. Kalau kamu bersabar dikit aja, rasa sakitku akan reda dengan sendirinya.”“Yaudah, deh,” kata Benny mengalah.“Aku, tuh, cuma takut ketemu babi hutan, harimau, serigala.”“Kalau dikejar babi hutan, kita hanya perlu berjalan belok karena babi hutan itu jalannya lurus nggak belok-belok kata kakakku. Tapi kalau harimau dan serigala, aku mana tahu, itu nanti kamu yang tanganin, ya?”Benny bertampang jutek kembali. “Kamu ngeledek, ya? Aku, kan, bilang aku takut sama hewan buas. Kok, sekarang kamu malah suruh aku jadi pawang mereka?!”Femii sebenarnya ingin tertawa, tapi rasa sakit yang menerjang perutnya malah menghasilkan kernyitan di wajah. “Kata kakakku, 99 persen dari apa yang kita khawatirkan itu tidak akan pernah terjadi. Sumber ketakutan terbesar kita adalah diri kita sendiri.”Hujan rintik-rintik tidak sampai membuat mereka basah kuyup. Namun percikan airnya membuat sepatu mereka kotor dengan air bercampur tanah. Benny detail sekali pada hal-hal kecil, termasuk soal sepatu barunya, tapi yang kini ia sadari adalah dia tidak secerdas seperti yang dibicarakan. Benny yang tidak pernah melewatkan hal kecil yang kerap kali luput dari pandangan orang-orang justru kini merasa bodoh karena baru saja mengetahui kalau kalimat bijak bukan hanya sekedar kata-kata bijak. Kata bijak berfungsi sebagai pengingat, pada saat bahagia atau depresi seseorang. Agar kita tak lupa bersyukur, tidak takut terjatuh, dan mengalahkan ketakutan terbesar kita. Benny akhirnya belajar banyak hal dari Femii, cewek kutu buku yang abai pada tren remaja yang disebut kekinian. “Bicaramu seperti orang besar.”“Maaf, ya, aku sudah salah menilaimu, Fem.” Kata Benny pada akhirnya.Femii tersenyum mengerti. “Nggak masalah,” katanya senang. “Udah, yuk, udah agak mendingan, nih. Kita jalan sekarang.”Mereka kembali berjalan. Tapi Femii mengingat perkataan Benny barusan. Pikiran itu mengganggunya menunggu untuk diungkapkan. “Bukan soal bicaraku seperti orang besar, lho, Ben. Kamu lihat, deh, anak kecil yang nampak dewasa dengan tutur kata dan tindakannya, orang-orang hanya  akan berdecak kagum dan jarang bersikap sentimentil. Paling-paling, mereka akan bilang anak itu terlalu dewasa dan cerdas untuk seusianya.”Hujannya mereda, tapi jalanan masih licin untuk dilalui. Untuk mencegah Femii agar tidak kenapa-napa, Benny meraih tangannya dan berjalan menuntun Femii. Gadis itu melanjutkan perkataannya. “Coba kalau orang dewasa yang bertutur, berpikiran, dan bertindak seperti anak kecil, orang-orang akan ramai menyebut dia super kekanak-kanakan.”Benny jadi bertanya-tanya, apa sifat mudah marah dan sikap juteknya adalah bentuk dari sifat kekanak-kanakan?