Ayo tuangkan ide dan tunjukkan kemampuan menulismu di Lomba Kreasi Cerpen Femii, Sahabat! Menangkan hadiah jutaan rupiah dan raih kesempatan menerbitkan tulisanmu menjadi buku kumpulan cerpen oleh NulisBuku.com. Jika kamu memiliki pertanyaan seputar teknis lomba, klik link syarat dan ketentuan di bawah ini!
Nyanyian Masa Depan
by: isabelathyana

Femii bangun pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari terbit dan burung gereja berkicau. Hari ini adalah hari besar yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Dari semalam, Femii sudah menyiapkan baju, alat tulis, serta beberapa 'peralatan perang' untuk menghadapi pertempuran hari ini. Tepat pukul 6 pagi, Femii sudah siap berangkat.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba wajah Femii menjadi pucat dan muncul keringat dingin. Ayah Femii memperhatikan perubahan tiba-tiba pada anak perempuannya.

"Kamu kenapa?"

"Nggak apa-apa, Yah. Hanya sedikit nyeri haid hari pertama," jawab Femii sambil meringis kesakitan.

"Kamu sudah minum obat, kan?"

Femii menggeleng.

"Ya udah, kita belok ke apotek dulu ya."

"Nggak usah, Yah. Nanti telat ke audisi sekolah musik. Waktunya sudah mepet."

"Kan masih ada waktu sampai sore untuk audisi."

"Kalau ikut audisi sore, berarti aku nggak bisa datang wawancara sekolah unggulan." Femii menunduk lesu. Dia sedang dalam dilema, mengikuti audisi sekolah musik dambaannya atau sekolah unggulan seperti yang diinginkan orang tuanya. Dia sudah mempersiapkan diri untuk ikut keduanya hari ini.

"Kalau kamu paksakan, hasilnya jadi nggak maksimal dua-duanya. Lebih baik korbankan salah satu tapi hasilnya maksimal," kata Ayah Femii.

Femii berpikirkeras, menentukan pilihan.

Setelah beberapa menit bergulat dengan pikirannya sendiri, Femii mulai mengambil keputusan. Ia memutuskan tetap mengikuti audisi dan mengikuti wawancara di sekolah unggulan. 

“Yah, Femii tetap ikut audisi dan wawancara ya. Femii sudah matang mempersiapkan semuanya, Femii juga pasti kuat kok menahan nyeri haid ini.” Kata Femii sambil tersenyum. Femii memantapkan pandangannya, berusaha memberi tahu Ayah, kalau Femii kuat melawan nyeri haid. 

“Oke, Ayah hargai keputusanmu. Tapi, kalau kamu memang tidak kuat, kamu sebaiknya istirahat saja. Nanti kita ke apotek dulu ya.” 

“Nggak usah Yah, Femii takut kalau nanti terlambat. Ayah nggak denger ya? biola Femii sudah berteriak meminta untuk dimainkan, hahah..” Femii tertawa, telinganya sengaja ia dekatkan ke arah biola yang ada di sampingnya. Ayah Femii pun juga ikut tertawa melihat tingkah konyol Femii. Ia semakin yakin, kalau Femii pasti bisa melawan nyeri haid.

Jalan raya yang semula sepi, berubah menjadi lautan kendaraan yang tidak sabar. Semua mulai berebut mencari celah jalan yang bisa dilewati, agar dapat menyalip kendaraan di depannya. Macat. Satu hal yang membuat Femii gelisah. Sesekali ia melihat jam yang melingkar di tangannya, sesekali juga ia memegang perutnya yang nyeri. 

“Akhirnya sampai juga,” kata Ayah yang berusaha mencari tempat parkir untuk mobilnya. 

Femii segera berjalan secepat kilat menuju tempat registrasi. Wajahnya masih pucat. Mungkin nyeri itu masih menggantung di perutnya. 

Femii membalikkan badan. Wajahnya tersirat seperti orang yang sedang kecewa. Registrasi untuk audisi sudah ditutup. Kuota yang ada pun juga sudah habis, tidak tersisa. Jika ia dan Ayahnya bisa datang tiga puluh menit lebih cepat, mungkin sekarang Femii sudah bisa beraksi dengan biola kesayangannya itu. 

Tanpa berpikir panjang, Femii kembali menuju mobil. Dengan air mata yang masih berjatuhan di pipinya, ia sesekali merubah raut wajahnya seperti orang yang sedang menahan sakit. Nyeri itu kini datang dengan sangat hebat. Menyerang perutnya yang sedari tadi belum terisi makanan. 

Ayah Femii pun mengajak Femii untuk makan, karena takut maagnya kambuh. Ia tidak mampir ke apotek, karena alasan klasik Femii; “Kalau minum air hangat, nanti nyerinya juga hilang Yah,” 

Saat sedang menikmati makanan, Ayah Femii menerima telfon. Ia menjauhkan diri dari meja makan. Berbicara serius dan kembali untuk berpamitan kepada Femii. Ayah Femii ingin menjemput Ibu di butik. 

Ayah memberi semangat makan kepada Femii, karena Femii seperti tidak berselera makan. Femii hanya tersenyum, mungkin raut muka Femii sekarang menunjukkan kalau Femii ingin berkata; “memangnya nahan nyeri enak Yah? Perut Femii sakit banget, nggak enak juga kalau diisi makanan. Coba deh Ayah jadi Femii, pasti Ayah nggak bakal kuat!”

Sudah waktunya Femii berangkat wawancara, namun Ayahnya masih belum datang. Femii sudah beberapa kali menghubungi ayah dan ibunya, namun tidak ada jawaban dari mereka. 

“Hai Femii!” Sapa seseorang yang muncul dibalik keramaian restoran. Mungkin dia adalah Om Nico, teman Ayah sekaligus pemilik restoran. “Saya Nico, teman Ayah kamu. Kamu mau kemana kok bawa biola?” 

“Oh, saya Femii om. Saya nggak mau kemana-mana, cuma nunggu Ayah dan Ibu,” Jawab Femii ramah. Ia sengaja tidak memberi tahu kalau ia akan ikut wawancara di sekolah. Untuk saat ini, Femii yakin kalau ia datang wawancara, pasti wawancara sudah tutup, karena waktu wawancara yang sempit dan akan segera berakhir. 

“Om boleh minta tolong nggak? Kamu bisa nyanyi kan? Kamu boleh lho nyanyi sambil main biola di atas panggung,” 
“Saya om? Boleh kok om.” 

Femii pun menuju ke atas panggung. Ia memainkan biolanya sembari bernyanyi mengikuti alunan biola yang ia mainkan. Semua pengunjung restoran seketika terhipnotis karena suara Femii dan permainan biolanya yang indah. 

Setelah bernyanyi beberapa lagu, ayah dan ibu Femii pun datang. Mereka minta maaf dan sangat menyesal karena tidak mengantar Femii untuk wawancara. Untuk kedua kalinya, Femii sangat kecewa. Pertama, ia tidak bisa ikut audisi dan yang kedua ia tidak ikut wawancara di sekolah impiannya. 

Namun, kali ini Femii tidak menangis. Ia kembali memperlihatkan muka pucat serta menahan sakit yang sedari tadi semakin menjadi-jadi. 

“Ini nak, Feminax supaya kamu nggak kesakitan lagi,” kata Ibu sambil mengeluarkan Feminax dari dalam tasnya. 

“Ayah dan Ibu minta maaf ya. Tadi butik Ibu terbakar. Jadi Ayah dan Ibu harus mengurusnya terlebih dahulu.” 

Femii kaget karena mendengar berita itu. “Iya, nggak apa-apa kok Yah, Bu. Mungkin memang belum rejeki Femii,” jawab Femii. 

“Hai Femii, terimakasih ya! Suara dan permainan biolamu sangat bagus! Oh iya, ada yang mau bertemu kamu,” kata Om Nico, yang lagi-lagi muncul di balik keramaian restoran. Ia bersama dengan seorang yang berusia kira-kira 30 tahun. 

“Hai, saya Cleo. Saya sudah melihat permaianan biolamu yang sangat bagus. Saya juga sudah mendengar suaramu yang bisa menghipnotis semua pengunjung. Jadi saya mau memberimu beasiswa sekolah musik di luar negeri.” 

Femii, ayah, ibu, dan Om Nico terlihat kaget mendenegarnya. Femii tidak menyangka jika dibalik semua ini, Tuhan sudah merencanakan hal yang sangat indah. Wajahnya kembali tersenyum lebar. Nyeri yang ada di perutnya juga sudah hilang setelah minum Feminax. Femii menerima beasiswa itu. Ia pun berterimakasih kepada Kak Cleo, Ayah, Ibu, dan tentunya kepada Om Nico, karena sudah memberinya kesempatan untuk bernyanyi di restorannya.