Ayo tuangkan ide dan tunjukkan kemampuan menulismu di Lomba Kreasi Cerpen Femii, Sahabat! Menangkan hadiah jutaan rupiah dan raih kesempatan menerbitkan tulisanmu menjadi buku kumpulan cerpen oleh NulisBuku.com. Jika kamu memiliki pertanyaan seputar teknis lomba, klik link syarat dan ketentuan di bawah ini!
Salah Sangka
by: Kirmizi02

Petir menggelegar. Hujan deras mengguyur. Femii menggigil kedinginan, sambil menggerutu kesal dalam hati. Ada dua hal paling sulit untuk diatasi di dunia ini, setelah ujian Fisika menurut Femii, yaitu nyeri haid dan berhadapan dengan orang yang jutek. Kali ini Femii mengalami hal sulit itu sekaligus!

"Gara-gara kamu nyeri haid sih, kita jadi terjebak kehujanan di sini. Kalo enggak kan kita bisa jalan lebih cepat kepemukiman penduduk," cerca Benny.

"Maaf," Femii hanya bisa menjawab singkat. Dia sedang meringkuk di bawah rimbunan pohon karena menahan nyeri haid.

"Sebentar lagi matahari terbenam. Masa mau nginep di hutan sih? Kamu menghambat aja ah," masih dengan nada marah, Benny kembali ngomel-ngomel.

Femii kemudian bangkit untuk memberi pengertian. "Aku nggak mengeluh saat menemanimu memeriksa tanda yang salah dan akhirnya malah kesasar. Seharusnya kita pecahkan masalah ini bersama. Kita berdua tersesat dan tidak membawa perbekalan yang cukup."

"Iya, trus gimana dong? Mau lanjut jalan tapi katamu perutmu nyeri sekali. Mau tetap berteduh nunggu hujan reda, nanti kemalaman di hutan."

Femii menghela napas panjang sebelum menjawab.

“Satu, kamu punya Feminax enggak? Dua, kalo kamu enggak punya, bisa gendong aku enggak? Tiga, kalo kamu enggak bisa, bisa diem enggak? Sopan sedikit sama perempuan yang lagi siklus bulanan! Ibumu itu juga perempuan, tahu! Dan kamu gak lahir dari batu!”

Benny diam. Ia sebenarnya kaget diomeli oleh Femii padahal semenit lalu cewek itu masih bicara lemah-lembut padanya. Jujur, Benny tidak pintar bicara dengan lawan jenis karena sejak SD hingga SMA ia sekolah di sekolah khusus cowok. Bertemunya—juga tersesatnya—mereka adalah buntut dari acara ramah tamah OSIS kedua sekolah yang berafiliasi. Dan apa pula itu Feminax? Makanan kah? Perut Benny sudah meraung-raung minta diisi sejak tadi.

Di tengah suasana yang tegang, tiba-tiba muncul sebuah mobil jip dengan lampu menyorot terang. Cepat-cepat Benny melambaikan tangan.

“Benny! Femii!” Seorang laki-laki meloncat turun begitu jip itu berhenti di depan mereka.

“Pak Suki!” Air mata Femii langsung bercucuran saat melihat wajah pembina OSIS sekolahnya, membuat Benny melongo. Bukannya tadi dia sedang marah? Sekarang dia menangis? Cewek memang aneh!

“Kalian tersesat jauh sekali! Bapak sampai harus minta antar warga kampung tempat kita camping!”

“Maaf Pak, tadi—”

“Sudah Benny, penjelasannya nanti saja,” potong Pak Suki. “Ayo naik!”

Akhirnya sore itu Benny dan Femii tak jadi kelaparan dan kehujanan di tengah hutan. Hanya saja hingga tiba di camp, mereka berdua saling mendiamkan.*
 “Ben! Punya pin BB Femii enggak?”

Edo, temannya dari kelas sebelah, tiba-tiba menyeruduk masuk ke dalam tenda yang sudah dihuni Benny, Fariz, dan Jo.


“Ngapain sih lo ngepoin pin BB cewek galak itu?” jawab Benny ketus. Ia teringat saat makan malam tadi dan Femii masih saja mendiamkannya.

“Gimana enggak kepo, cantik gitu orangnya!” Kali ini malah Fariz yang bersuara.

“Cantik sih, tapi males banget deh sama kelakuannya!”

“Kelakuan yang gimana emangnya?” tanya Edo.

Benny pun menceritakan semua yang ia alami sepanjang sore tadi.

“Aneh, kan?! Dia labil banget pokoknya!” seru Benny berapi-api.

“Iya ih, cantik-cantik tapi absurd,” komentar Edo. Pupus sudah niatnya untuk pedekate.

Jo, ketua OSIS mereka yang sejak tadi diam saja, akhirnya angkat bicara. “Dasar bloon kalian semua. Itu namanya mood swing!”

Mood swing?” tanya ketiganya serempak.

Jo menghela napas. “Cewek yang lagi dapet itu emang emosinya labil dan itu normal. Trus Feminax itu nama obat, ampuh banget buat ngeredain nyeri haid. Kalau haidnya udah selesai, cewek bakal kayak biasa lagi kok.”

“Ih! Kok lo tahu Jo?” tanya Fariz penuh selidik.

“Gue punya kakak cewek empat orang. Lo pada lupa, ya? Tiap bulan, sering banget gue bolak-balik ke apotek buat beli Feminax sama pembalut,” jelas Jo dengan wajah kusut, teringat dengan kelakuan ajaib keempat kakaknya saat sedang haid.

“Berarti, si Femii normal?” tanya Edo dengan mata berbinar-binar.

“Ck! Cuma karena kita sekolah di sekolah khusus cowok, bukan berarti kita sampe gak ngerti masalah beginian, kali! Jelas dia normal, lah! Kalo dia gak normal, berarti semua cewek di dunia itu gak normal! Liat aja besok. Dia pasti bakal minta maaf sama Benny. Udah sana balik! Gue mau tidur!” Lalu Jo pun berbaring memunggungi mereka semua.

Edo menurut dan kembali ke tendanya sementara Fariz menyusul Jo ke alam mimpi. Tinggallah Benny yang sibuk berpikir, apa yang harus ia katakan kalau Femii benar-benar meminta maaf?
 *
Hari ini adalah hari terakhir acara camping ramah tamah kedua sekolah. Karena itu, tepat setelah makan siang, semua peserta dipersilakan merapikan semua barang bawaan sebelum mereka melakukan upacara penutupan. Benny dan kawan-kawannya yang notabenenya lelaki, dengan cepat merapikan tenda mereka.

“Tuh, si Femii sama temen-temennya kesusahan beresin tenda. Mau bantuin gak?” tanya Jo pada Fariz.

“Ayok, lah. Si Edo juga udah jalan tuh ke sana,” jawab Fariz. “Lo gak ikut Ben?”

Benny diam tak menyahut dan berpura-pura sibuk merapikan backpack-nya. Jo dan Fariz yang sudah paham dengan tabiat Benny, pergi tanpa bertanya lagi. Ketika Benny sedang sibuk menggulung tali tambang pengikat tenda, punggungnya ditepuk oleh seseorang.

“Benny. Lagi apa?”

Rupanya Femii. Benny, yang tak menyangka Femii akan datang menyapanya, hanya bisa memasang wajah jutek.

“Lagi beresin tali, lah. Gak bisa liat, apa?”

Tidak seperti kemarin saat sedang ‘labil’, Femii malah tersenyum tipis mendengar ucapan ketus Benny. “Iya, liat kok.”

Benny masih belum mengubah ekspresi wajahnya. Tapi tiba-tiba Femii mengucapkan hal yang mengejutkan.

“Oh iya, Ben. Aku mau minta maaf soal kemarin. Aku udah ngomong kasar ke kamu. Maafin aku ya?”

Puja Tuan Jo! Tebakannya benar sekali. Femii datang meminta maaf dan dari wajahnya pun ia terlihat tulus. Akhirnya, Benny mengangguk.

“Aku maafin. Aku juga mau minta maaf karena udah ngeselin banget kemarin. Karena sejak kecil aku sekolah di sekolah khusus cowok, aku agak canggung ngobrol sama cewek dan jadinya ngomong ketus melulu,” aku Benny panjang lebar.

“Ahaha. Berarti aku salah sangka ya, sama kamu? Aku pikir kamu emang gitu orangnya.”

“Aku pikir juga kamu labil orangnya. Tahunya karena lagi haid aja.”

“Benny! Jangan keras-keras ngomongnya!” Femii memekik.

“Kenapa? Itu kan normal.” Benny mengangkat bahu.

“Iya, tapi kan ….”

Akhirnya Benny dan Femii berbaikan. Keduanya bahkan saling bertukar pin BB. Salah sangka si cowok polos yang tidak mengerti tentang siklus bulanan cewek dan salah sangka si cewek pada si cowok judes berakhir dengan pertemanan.