Ayo tuangkan ide dan tunjukkan kemampuan menulismu di Lomba Kreasi Cerpen Femii, Sahabat! Menangkan hadiah jutaan rupiah dan raih kesempatan menerbitkan tulisanmu menjadi buku kumpulan cerpen oleh NulisBuku.com. Jika kamu memiliki pertanyaan seputar teknis lomba, klik link syarat dan ketentuan di bawah ini!
Sahabat Terbaik
by: afi2709

Hari Minggu pagi yang cerah ini seharusnya adalah waktu yang menyenangkan untuk olahraga bersama sahabat terdekat. Sayangnya, hari ini Femii sedang tidak enak badan, perut dan punggungnya nyeri karena haid. Dia juga sedang bertengkar dengan sahabat terbaiknya, Salma. Setelah peristiwa satu minggu yang lalu, mereka sudah nggak bertegur sapa sama sekali.

Femii sedang berbaring di tempat tidur, saat bel pintu rumahnya berbunyi. Tak lama kemudian, ibu masuk ke kamar Femii memberitahukan bahwa ada seseorang datang menjenguk. Femii beranjak dari tempat tidur untuk menyambut tamu tersebut. Aldi tersenyum, di balik punggung ibu. Dia membawa beberapa buah tangan. Bukannya senang karena ada yang menjenguk, Femii justru cemberut.

"Semoga lekas sembuh ya, Femii," Aldi memberi salam ramah. "Kemarin di kelas sepi nggak ada kamu."

"Terima kasih Aldi. Aku senang kamu menjenguk dan mendoakanku. Sayangnya, aku nggak suka jika Salma sedih dan marah kepadaku karena tahu kamu menjengukku."

“Kalau begitu, jangan beritahu Salma kalau aku menjengukmu,” respon Aldi sambil tersenyum jenaka.

Femii memutar bola matanya karena kesal. Ia tahu betul Aldi sedang bercanda. “Aku serius, Al. Salma akan sedih kalau tahu kamu ke sini. Sekarang saja dia masih marah padaku.” Femi meringis mengingat kejadian minggu lalu. Ia kemudian duduk di salah satu kursi, Aldi mengikutinya. Kini, mereka duduk berhadapan di ruang tamu.

“Kenapa pula Salma harus sedih?” tanya Aldi dengan tampang bingungnya. Femii hanya diam, tak berniat menjawab pertanyaan itu. Aldi mengasumsikan bahwa itu adalah masalah perempuan, dan dia tidak akan mengerti. “Tadi katamu, kalian sedang bertengkar? Jadi, Salma belum menjengukmu?” tanya Aldi memastikan. Femii menjawabnya dengan anggukan. “Memang masalahnya sebesar apa sampai bisa membuat sepasang sahabat yang lengket seperti kalian bisa bertengkar?” Aldi semakin penasaran. Femii hanya menatap Aldi, tanpa menjawab pertanyaannya.

Kalau sudah menyangkut cinta, masalah kecil pun menjadi besar, Femii membatin.

“Daripada kamu kepo, lebih baik kamu pulang. Lagi pula, aku mau istirahat,” putus Femii akhirnya.

“Kamu mengusirku?” Aldi memasang wajah sedihnya.

Femii menarik napas panjang. “Aku nggak bermaksud mengusirmu, Al. Hanya saja, sekarang mood-ku sedang buruk. Aku tidak mau kamu kena imbasnya.”

“Iya, Fem. Aku mengerti. Aku tadi juga cuma bercanda, kok,” Aldi tersenyum maklum. “Ya sudah, aku pulang dulu, ya. Selamat beristirahat. Semoga besok sudah kuat sekolah, ya.”

Femii mengamininya. “Iya, terima kasih sudah datang ke sini,” ucap Femii tulus.

Aldi sudah hampir mencapai pintu saat sosok ibu Femii muncul dari arah dapur.

“Lho, sudah mau pulang?” tanya beliau heran.

Aldi langsung memutar badannya hingga menghadap pada Femii dan ibunya. “Iya, Bu. Biar Femii istirahat saja. Jadi, besok bisa masuk sekolah,” jawab Aldi sopan.

“Aduh... mana tidak disuguhi minum. Femii memang sering begitu kalau temannya datang ke rumah. Keasikan ngobrol sampai lupa memberi suguhan,” ujar ibu Femii sambil menggelengkan kepala.

“Tidak apa-apa, Bu. Kalau begitu, saya pulang dulu,” pamit Aldi. Kemudian ia mencium tangan ibu Femii. “Aku pulang dulu, ya,” pamitnya pada Femii, yang hanya dibalas anggukan.

Femii dan ibunya mengantar sampai depan pintu dan menunggu hingga Aldi sudah tidak terlihat lagi. Ibunya kemudian kembali ke belakang rumah untuk menjemur pakaian. Femii baru akan masuk saat matanya menangkap sosok itu. Sosok perempuan yang berdiri di bawah pohon mangga di depan rumahnya. Perempuan itu begitu dikenalnya. Perempuan itu, Salma.

Tubuh Femii seketika menegang dilanda kepanikan.

Apa Salma melihat Aldi keluar dari sini? Bagaimana kalau Salma semakin marah padaku?

Femii masih sibuk dengan pikirannya saat Salma berjalan mendekat.

“Hai,” sapa Salma dengan senyum manisnya. Femii masih mematung. “Fem?” panggil Salma sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Femii.

“Eh, hai,” balasnya kaku.

“Kenapa kamu malah bengong? Kamu nggak suka aku datang ke sini?”

Femii menggeleng keras. Bukannya tidak senang, ia hanya masih tidak menyangka Salma akan datang, apalagi Aldi baru saja pulang. Ia yakin Salma sempat melihat Aldi keluar dari rumahnya.

Melihat Femii yang masih sibuk dengan pikirannya, Salma bergumam pelan. “Kalau tahu kamu nggak suka aku jenguk, aku nggak akan ke sini.” Femii langsung tersadar dari lamunannya.

“Bagaimana mungkin aku nggak suka dijenguk sahabat sendiri! Aku hanya ... takut kamu masih marah padaku,” jawab Femii sambil menggigit bibirnya.

“Aku jelas marah kalau kamu lebih senang dijenguk Aldi daripada dijenguk olehku.” Salma mengatakan itu dengan mimik yang begitu datar. Itu membuat Femii kembali di serang kepanikan. Wajahnya memucat dan mulutnya setengah terbuka. Melihat respon Femii yang demikian, Salma seketika terbahak.

“Ya ampun, Fem. Aku hanya bercanda. Kenapa kamu menganggapnya serius sekali?” tanya Salma sambil berusaha menghentikan tawanya. Femii masih diam. Wajahnya menampakkan rasa bingung yang kentara.

Setelah yakin suaranya terkumpul, Femii bertanya pelan. “Kamu melihat Aldi pulang dari sini?”

Salma yang mendengar suara Femii tak sekeras biasanya, langsung menghentikan tawanya. “Iya, tadi aku lihat Aldi di depan. Tapi, tenang saja. Aku tidak marah, kok,” jawabnya sambil tersenyum.

“Kamu ...”

“Aku ke sini untuk minta maaf,” ujar Salma. Ia kemudian menarik napas panjang, bersiap bicara. Femii langsung terdiam mendengar ucapan Salma. Kalimat yang sudah ia susun di kepala, menguap, hilang entah ke mana. “Aku datang ke sini untuk minta maaf karena sudah marah-marah padamu hari Senin lalu. Aku tahu, harusnya aku nggak melakukan itu. Lagi pula, bukan salahmu kalau Aldi mengantarmu pulang. Aku mengaku, memang ada sedikit rasa cemburu melihat Aldi bersamamu. Tapi bagaimana pun juga, tindakanku tidak bisa dibenarkan. Aku baru memikirkannya setelah sampai rumah. Tadinya aku juga bingung kenapa bisa seemosi itu. Barulah saat ke kamar mandi, aku mengerti.

“Aku menyesal. Masa hanya gara-gara emosi labil saat sedang haid, aku tega memarahimu yang jelas-jelas tak salah apa-apa. Aku tahu aku salah, tapi aku juga terlalu gengsi untuk langsung meminta maaf. Makanya, aku menunggu saat yang tepat, daripada emosiku meledak lagi. Biasanya kalau haidku sudah selesai, emosiku kembali stabil. Jadi, aku baru datang hari ini.” Salma menarik tangan Femii dan menggenggamnya. “Maafin aku, ya,” pintanya.

Femii masih diam, mencoba menyerap semua penjelasan Salma. Saat ia telah mengerti semuanya, senyumnya mengembang. Ia langsung memeluk Salma. “Aku maafin. Asal kamu jangan marah-marah lagi.” Salma mengangguk dalam pelukan Femii.

“Ngomong-ngomong, kamu sakit apa, sih?” tanya Salma saat pelukan mereka sudah terlepas.

“Biasa, baru awal haid. Perutku sakit sekali, sampai guling-guling di kasur. Makanya, kemarin nggak kuat sekolah,” jawab Femii menjelaskan.

“Terus Aldi tahu kamu sakit itu?”

Femii menggelengkan kepalanya. “Tadi dia hanya sebentar, kok. Mood-ku sedang buruk gara-gara haid, daripada aku marah-marah nggak jelas ke dia, lebih baik aku memintanya segera pulang.”

“Kamu menyindirku?” tanya Salma dengan wajah cemberutnya. Giliran Femii yang tertawa keras. Femii tahu Salma hanya pura-pura merajuk, dan Salma juga tahu bahwa Femii memang jujur, tidak bermaksud menyindirnya sama sekali.

“Pokoknya, kalau emosimu sedang labil, lebih baik jangan banyak ngobrol ini-itu, ya. Aku nggak mau kena semprot lagi. Aku juga begitu, kalau sedang bad mood, akan memilih diam.” Femii kemudian mengulurkan kelingkingnya ke arah Salma. “Setuju?”

Salma mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Femii. “Setuju,” jawabnya riang.

Mereka berjanji tidak akan bertengkar karena masalah sepele lagi.
 ~~~END~~~