Ayo tuangkan ide dan tunjukkan kemampuan menulismu di Lomba Kreasi Cerpen Femii, Sahabat! Menangkan hadiah jutaan rupiah dan raih kesempatan menerbitkan tulisanmu menjadi buku kumpulan cerpen oleh NulisBuku.com. Jika kamu memiliki pertanyaan seputar teknis lomba, klik link syarat dan ketentuan di bawah ini!
Nyanyian Masa Depan
by: rasgozasapphire

Femii bangun pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari terbit dan burung gereja berkicau. Hari ini adalah hari besar yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Dari semalam, Femii sudah menyiapkan baju, alat tulis, serta beberapa 'peralatan perang' untuk menghadapi pertempuran hari ini. Tepat pukul 6 pagi, Femii sudah siap berangkat.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba wajah Femii menjadi pucat dan muncul keringat dingin. Ayah Femii memperhatikan perubahan tiba-tiba pada anak perempuannya.

"Kamu kenapa?"

"Nggak apa-apa, Yah. Hanya sedikit nyeri haid hari pertama," jawab Femii sambil meringis kesakitan.

"Kamu sudah minum obat, kan?"

Femii menggeleng.

"Ya udah, kita belok ke apotek dulu ya."

"Nggak usah, Yah. Nanti telat ke audisi sekolah musik. Waktunya sudah mepet."

"Kan masih ada waktu sampai sore untuk audisi."

"Kalau ikut audisi sore, berarti aku nggak bisa datang wawancara sekolah unggulan." Femii menunduk lesu. Dia sedang dalam dilema, mengikuti audisi sekolah musik dambaannya atau sekolah unggulan seperti yang diinginkan orang tuanya. Dia sudah mempersiapkan diri untuk ikut keduanya hari ini.

"Kalau kamu paksakan, hasilnya jadi nggak maksimal dua-duanya. Lebih baik korbankan salah satu tapi hasilnya maksimal," kata Ayah Femii.

Femii berpikirkeras, menentukan pilihan.

Namun tiba-tiba pikirannya buyar karena ayahnya kembali berkata.

"Sudahlah, kamu relakan saja audisi itu, oke? Daripada kamu sakit begini. Ayah tidak mau anak ayah sakit. Ayo kita ke apotek dan beli obat, lalu sorenya kamu bisa mengikuti wawancara sekolah unggulan itu," kata ayah Femii.

Femii menatap ayahnya dengan tatapan lesu. Orangtuanya memang selalu menginginkan dirinya masuk sekolah unggulan, bukan sekolah musik seperti impiannya.

Walau sepertinya Femii ingin sekali bilang kepada orangtuanya bahwa dirinya ingin mewujudkan mimpinya menjadi seorang penyanyi. Tapi, dirinya juga akan ikut sedih kalau ternyata keputusannya mengecewakan ayah dan ibunya. Jadi, Femii menurut dan mengikuti ayahnya ke apotek dengan pasrah.

Sesampainya di apotik, Ayah bertanya pada apoteker, obat apa yang bagus untuk mengurangi rasa nyeri pada masa haid. Kakak apoteker itu melirik Femii dengan wajah cantiknya.

“Oh, de. Kakak rekomendasiin kamu minum Feminax aja. Feminax mengurangi rasa nyeri haid kamu, sekaligus bikin kamu tetap stay active,” kata kakak apoteker sambil tersenyum, lalu menyerahkan feminax pada Femii.

“Baik deh kak, aku beli feminaxnya satu ya,” kata Femii.

Karena rasa sakit Femii tiba-tiba makin parah dan sudah tidak tertahan lagi, Femii memutuskan untuk segera meminum feminax. Femii lalu mengeluarkan botol air minum dari tasnya dan segera menelan satu butir feminax dari tangannya. Setelah membayar dan mengucapkan terimakasih pada kakak apoteker, Ayah dan Femii pun segera keluar dari apotek.

Saat duduk di mobil, Femii melirik jam tangannya. Wajahnya mulai terlihat sedikit panik ketika jarum jam menunjukkan waktu yang mepet untuk mengikuti audisi sekolah musik. Mengingat perutnya masih nyeri dan Ayah memintanya memprioritaskan kesehatannya, Femii jadi uring-uringan. Ikut, nggak.. Ikut, nggak..

Ketika Femii yang duduk bersandar sedang berpikir sambil memejamkan matanya, dipegangnya perutnya. Perlahan, sedikit demi sedikit kok rasa nyerinya sudah berkurang. Femii membuka matanya dan memosisikan duduknya secara tegak.

Kok nggak nyeri lagi? Batinnya dalam hati. Lalu diliriknya Ayah yang sedang menyetir.

“Ayah, perut Femii nggak sakit lagi!” kata Femii girang pada Ayah.

“Serius? Wah, berarti obatnya manjur ya Fem!” kata ayah sembari tersenyum.

Mendadak teringat akan audisi sekolah musiknya, Femii langsung sumringah. Ia kembali berkata pada Ayah.

“Yah, berarti aku boleh dong ikut audisi sekolah musik?”

Ayah melirik Femii, keningnya berkerut.

“Tapi apa nggak ngepas waktunya, Fem?”

Femii melirik jam tangannya. Meski agak pas, tapi sebenarnya masih bisa dikejar.

“Nggak apa-apa, yah! Bisa kok, antar Femii kesana ya?” pinta Femii pada Ayah.

Dan ayah, yang tidak bisa mengatakan tidak pada Femii kalau sedang memelas, akhirnya setuju mengantar Femii ke audisi sekolah musik. Tentu saja, Femii berteriak girang dan berterimakasih pada Ayah.

***

Sesampainya di sekolah musik, registrasi sebentar lagi akan ditutup. Femii buru-buru memasuki gerbang sekolah musik sambil berlari, ke arah meja registrasi. Namun sayang, tepat saat Femii menjejakkan kaki ke depan meja registrasi, mereka sudah menutup pendaftaran. Meski Femii sudah berulang kali meminta untuk memasukkan namanya yang datang di detik terakhir, tapi panitia tidak menerima permintaan Femii. Ah.. betapa kecewanya Femii.

Ayah yang menghampiri Femii depan meja registrasi, melihat wajah putrinya yang terlihat sedih. Ayah lalu mengelus rambut putri bungsunya yang sedang lesu itu.

“Sudahlah Femii, jangan sedih ya. Ayo kita pulang dan tunggu sampai sore ya, untuk ikut audisi sekolah unggulan," Ayah mencoba menghibur Femii.

Femii mengangguk pasrah, lalu mengikuti ayah pergi keluar gerbang. Mungkin ini bukan jalannya untuk ikut audisi sekolah musik, dan harus ikut sekolah unggulan, pikirnya.

Namun ketika menuju gerbang sekolah, Femii berpapasan dengan seorang adik perempuan yang menangis. Karena kasihan, Femii pun menghampiri anak kecil itu.

“Adik kecil, kenapa menangis?” tanya Femii.

Adik kecil itu mendongak, melihat wajah Femii.

“Huhuhu.. Kakak.. aku kehilangan ibu. Aku nggak tahu ibu dimana,” kata adik kecil itu lagi.

Melihat adik kecil itu menangis, hati Femii menjadi tergerak. Dilihatnya pula sekelilingnya memang ramai, karena sedang audisi. Akhirnya, Femii memutuskan untuk menemukan ibu si adik kecil. Ia lalu meminta ayah untuk menunggu di mobil sementara Femii mengantar si adik kecil.

Sambil berjalan mencari ibunya, si adik kecil masih saja menangis. Femii yang kasihan, berjongkok lalu mengelus kepala adik itu.

“Dik, kakak akan nyanyikan lagu kalau kamu nggak nangis lagi,” kata Femii mencoba menghibur.

Tapi tak disangka, si adik kecil itu langsung tersenyum.

“Menyanyi? Aku suka! Kakak harus nyanyi!” jawab si adik kecil.

Maka sambil berjalan, Femii pun menyanyikan berbagai macam lagu untuk menghibur si adik kecil, supaya tidak menangis lagi. Sampai..

“Ibuuuu!!!” si adik kecil tiba-tiba berteriak sambil menarik tangan Femii. Adik kecil itu berlari menuju arah depan panggung, menghampiri sesosok wanita yang juga sedang terlihat panik sambil menangis.

“Riana!” Kata wanita yang merupakan ibu adik kecil tersebut.

Femii buru-buru membawa Riana kehadapan ibunya.

"Terimakasih ya, kamu sudah mengantar anak saya, saya Anita, ibunya Riana," kata wanita itu sambil memeluk anaknya. Femii tersenyum melihat pemandangan itu, senang karena Riana bertemu ibunya kembali.

Namun ketika Femii hendak meninggalkan mereka, tiba-tiba Riana berceletuk. “Ibu, kakak itu suaranya sangat bagus,” kata Riana sambil menunjuk Femii.

Femii tertegun sebelum melangkah kembali. Kemudian, Bu Anita menatap Femii sambil tersenyum.

“Oh ya, benarkah? Apa kamu akan mengikuti audisi sekolah musik ini?” kata Bu Anita.

Femii mengangguk, lalu berkata, “Benar, bu. Tapi tadi registrasi sudah ditutup. Aku jadi nggak bisa ikutan.”

Mendengar jawaban Femii, Bu Anita langsung kelihatan berpikir. Ia lalu memanggil beberapa petugas panitia, dan menghampiri Femii.

“Saya sudah bilang sama panitia bahwa kamu diizinkan ikut. Terimakasih ya, sudah mengantar Riana juga. Riana suka sekali mendengar suara yang bagus. Jadi saya yakin, suara kamu juga bagus. Omong-omong, saya juri disini. Jadi tampilkan penampilan terbaikmu ya nanti,” katanya sambil tersenyum, menepuk bahu Femii.

Femii yang mendengarnya, seakan tidak percaya. Dengan nyanyiannya, dirinya seperti diberikan kesempatan untuk mengejar mimpinya.

Femii pun langsung sumringah dan berlari untuk memberitahu ayah di mobil. Tentu saja, Femii juga bersiap untuk menampilkan nyanyiannya yang terbaik, nyanyian yang akan membawanya pada masa depannya.