Ayo tuangkan ide dan tunjukkan kemampuan menulismu di Lomba Kreasi Cerpen Femii, Sahabat! Menangkan hadiah jutaan rupiah dan raih kesempatan menerbitkan tulisanmu menjadi buku kumpulan cerpen oleh NulisBuku.com. Jika kamu memiliki pertanyaan seputar teknis lomba, klik link syarat dan ketentuan di bawah ini!
Nyanyian Masa Depan
by: Dinanwiyantika26

Femii bangun pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari terbit dan burung gereja berkicau. Hari ini adalah hari besar yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Dari semalam, Femii sudah menyiapkan baju, alat tulis, serta beberapa 'peralatan perang' untuk menghadapi pertempuran hari ini. Tepat pukul 6 pagi, Femii sudah siap berangkat.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba wajah Femii menjadi pucat dan muncul keringat dingin. Ayah Femii memperhatikan perubahan tiba-tiba pada anak perempuannya.

"Kamu kenapa?"

"Nggak apa-apa, Yah. Hanya sedikit nyeri haid hari pertama," jawab Femii sambil meringis kesakitan.

"Kamu sudah minum obat, kan?"

Femii menggeleng.

"Ya udah, kita belok ke apotek dulu ya."

"Nggak usah, Yah. Nanti telat ke audisi sekolah musik. Waktunya sudah mepet."

"Kan masih ada waktu sampai sore untuk audisi."

"Kalau ikut audisi sore, berarti aku nggak bisa datang wawancara sekolah unggulan." Femii menunduk lesu. Dia sedang dalam dilema, mengikuti audisi sekolah musik dambaannya atau sekolah unggulan seperti yang diinginkan orang tuanya. Dia sudah mempersiapkan diri untuk ikut keduanya hari ini.

"Kalau kamu paksakan, hasilnya jadi nggak maksimal dua-duanya. Lebih baik korbankan salah satu tapi hasilnya maksimal," kata Ayah Femii.

Femii berpikirkeras, menentukan pilihan.

Kalau dia memilih sekolah musik pasti kedua oaring tuanya akan kecewa, sedangkan kalau memilih sekolah unggulan dia tak menyukainya.“Lho,kok diam aja Fem?” tanya Ayah Femii.Femii hanya tetap diam dan menahan rasa sakit perutnya.“Masih bingung dengan pilihanmu? Ya udah, kita mampir apotek dulu ya. Nanti kita istirahat di sana sebentar, sambil kamu memikirkan pilihanmu dan bisa minum obat,” kata Ayah sambil menambah kecepatan motornya.Tak berapa lama Femii dan Ayah sampai di apotek. Setelah membeli obat, Femii menghampiri Ayahnya yang menunggu di tempat parkir sambil membawakan gitar yang akan digunakan untuk audisi nanti.“Ini air mineral buat minum obat. Tadi Ayah beli di warung seberang jalan itu,” kata Ayah sambil memberikan sebotol air mineral.“Makasih Yah,” ucap Femii lirih. Kemudian Femii meminum obat dan sakit perutnya pun sudah mulai hilang. Dia masih bingung dengan pilihannya. Dari kecil dia memang suka sekali dengan musik. Meskipun tidak mendapat dukungan sepenuhnya dari Ayah dan Ibu, tapi dia selalu bersemangat mempelajari musik. Hingga sampai saat ini dia telah menciptakan beberapa lagu dan mahir memainkan alat musik terutama gitar. Femii juga memiliki gitar kesayangan yang dia beri nama Biru. Dia memberi nama itu bukan karena gitarnya berwarna biru, namun karena dulu dia bisa membeli gitar tersebut menggunakan uang jajan yang dia sisihkan dan dikumpulkan dalam sebuah kotak yang berwarna biru. Femii memang sengaja tidak menggunakan celengan, karena takut kedua orang tuanya mengetahui kalau dia sedang menabung untuk membeli alat musik.“Fem, menurut kamu Ayah pantas enggak pakai baju ini?” tanya Ayah sambil menunujuk bajunya.“Cocok banget lah Yah, kan bajunya bagus terus Ayah juga ganteng hehehe,”“Hmmmm anak Ayah bisa aja nih. Sekarang coba lihat orang yang di seberang jalan itu. Dia pantas enggak pakai baju seperti itu? ““Enggak Yah, orangnya emang cantik sih, tapi pakaiannya terlalu terbuka, gak sopan kalau dipakai di depan umum. Emang kenapa sih Yah kok Ayah tanya soal pakaian?”“Nah,seharusnya kamu sudah  bisa menentukan sekolah mana yang akan kamu pilih,”“Kok bisa Yah? Femii malah jadi tambah bingung,”“Bagus tidaknya baju itu tergantung siapa yang memakainya. Kalau yang memakai pandai memilih baju pasti akan enak dipandang orang. Nah, kalau yang memaki tidak pandai memilih ya seperti yang kamu lihat tadi, tidak enak dipandang kan. Justru malah bisa merugikan dirinya sendiri,”“Terus apa hubungannya baju sama sekolah, Yah?”“Baju itu ibarat sekolah yang akan kamu pilih, yang bisa menentukan sekolah yang baik untuk kamu, yang nyaman sebagai tempat kamu belajar, dan bisa membuat bangga orang-orang yang Femii sayangi ya cuma Femii. Ayah dan Ibu tidak bisa bantu apa-apa, cuma bisa mengarahkan dan mendo’akan saja. Ya memang Ayah akui selama ini Ayah dan Ibu salah sudah melarang kamu bermain musik, tapi sekarang Femii sudah besar sudah tau jalan terbaik yang harus dipilih. Jadi, maafkan Ayah dan Ibu ya,Nak,” kata Ayah menasihati Femii dengan mata berkaca-kaca.Femii tak mampu berkata-kata, Dia hanya memeluk Ayahnya sambil menitikkan air mata.“Sudah, anak Ayah jangan sedih lagi ya. Kasihan Si Biru udah nunggu kamu dari tadi, dia udah gak sabar nemeni Femii berjuang,” kata Ayah sambil mengusap air mata Femii dan mengambil gitar kesayangan Femii lalu menggendongkannya di punggung Femii.“Makasih ya Yah, Femii janji gak akan mengecewakan Ayah dan Ibu. Femii pasti memberikan penampilan yang terbaik saat audisi nanti dan kelak bisa membuat bangga Ayah dan Ibu,” kata Femii dengan tersenyum manis.“Nah gitu dong, itu baru anak Ayah. Selalu Semangat. Sekarang berangkat yuk! Nanti keburu siang,” ajak Ayah.“Ayok Yah,” kata Femii dengan rasa gembira.Mereka pun berangkat ke tempat audisi dengan rasa penuh kegembiraan. Kini Femii terlihat sangat bersemangat sekali untuk mengikuti audisi sekolah musik itu karena telah mendapat dukungan dari orang tuanya. Sedangkan dalam hati Ayah tertulis sebuah harapan semoga lagu yang akan dinyanyikan oleh Femii nanti adalah sebuah nyanyian yang akan mengantarkan anaknya menjemput masa depan yang lebih baik.