Ayo tuangkan ide dan tunjukkan kemampuan menulismu di Lomba Kreasi Cerpen Femii, Sahabat! Menangkan hadiah jutaan rupiah dan raih kesempatan menerbitkan tulisanmu menjadi buku kumpulan cerpen oleh NulisBuku.com. Jika kamu memiliki pertanyaan seputar teknis lomba, klik link syarat dan ketentuan di bawah ini!
Sahabat Terbaik
by: kevinpakpahan24

Hari Minggu pagi yang cerah ini seharusnya adalah waktu yang menyenangkan untuk olahraga bersama sahabat terdekat. Sayangnya, hari ini Femii sedang tidak enak badan, perut dan punggungnya nyeri karena haid. Dia juga sedang bertengkar dengan sahabat terbaiknya, Salma. Setelah peristiwa satu minggu yang lalu, mereka sudah nggak bertegur sapa sama sekali.

Femii sedang berbaring di tempat tidur, saat bel pintu rumahnya berbunyi. Tak lama kemudian, ibu masuk ke kamar Femii memberitahukan bahwa ada seseorang datang menjenguk. Femii beranjak dari tempat tidur untuk menyambut tamu tersebut. Aldi tersenyum, di balik punggung ibu. Dia membawa beberapa buah tangan. Bukannya senang karena ada yang menjenguk, Femii justru cemberut.

"Semoga lekas sembuh ya, Femii," Aldi memberi salam ramah. "Kemarin di kelas sepi nggak ada kamu."

"Terima kasih Aldi. Aku senang kamu menjenguk dan mendoakanku. Sayangnya, aku nggak suka jika Salma sedih dan marah kepadaku karena tahu kamu menjengukku."

Aldi menundukkan kepalanya. Dirinya berusaha mengingat kembali kejadian satu minggu lalu sehingga Salma amat marah dengannya. Salma dan Femii adalah sahabat dekat Aldi. Mereka telah bersahabat sejak mereka duduk dibangku SMP. Tapi sebuah kejadian satu minggu lalu  menghancurkan segalanya. Segala hal yang telah dirajut dengan baik hancur seperti gelas yang terjatuh 

***
"Rey, gimana hari ini boleh kan?" tanya Aldi kepada Rey teman sebangkunya.

Rey menatap lekat mata Aldi. Mata Rey seperti sedang berusaha menelesuri isi mata Aldi. Seperti seorang pembunuh ,Rey mengangkat tangannya hendak menusuk mata Aldi.

"Eits, kamu mau ngapain?" Aldi menghindari tangan Rey dengan cepat.

"Haha, gak ada. Aku cuma mau menguji kecepatan kamu Di," Rey menjawab disertai senyuman lebar dibibir merahnya.

"Kamu yakin mau lakuin itu. Hal itu bisa merusak sesuatu loh," Rey tiba-tiba angkat bicara disertai dengan bulatan mata hitamnya.

Aldi menatap kearah langit-langit kelas. Sebenarnya ada keraguan didirinya. Tapi kalau dia masih simpan semua rahasia ini pasti dia juga akan merasakan sakitnya. Segala hal dapat dipertaruhkan dengan mudah saat ini.

"Hey, jangan melamun. Jawab dong," teriak Rey tiba-tiba membuyarkan lamunan Andi.

"Aku yakin koq," jawab Andi meski masih disertai beberapa ketakutan.

"Hy Andi dan Rey." Teriak Femii membuat Aldi dan Rey terkejut.

Femii tampil sangat anggun saat itu. Walaupun masih memakai baju seragam sekolah. Beberapa riasan rambut dikepalanya berhasil membuatnya berbeda dari biasanya. Tubuhnya yang seperti gitar Spanyol pun turut andil dalam mempercantik Femii.
 Aldi hanya tersenyum dengan manisnya kepada Femii. Mungkin kalau ada semut disekitar Aldi semut-semut tersebut akan mengerumuninya karena kemanisan senyumannya. Mata Aldi pun tak henti-hentinya menatap lembut kearah Femii.
  “Aldi kamu kenapa?” bentak Femii tiba-tiba.
 Dengan spontan Rey menepuk jidat Aldi yang besar.
 “Aldi, sadar.” Bisiknya ditelinga Aldi. Bukan itu bukan bisikan tetapi terkesan seperti teriakan. 
 Suara teriakan Rey menghilangkan lamunan Aldi yang sudah berada dilangit ketujuh. Bahkan lebih tinggi lagi dari itu.
 “Kamu cantik banget Fem,” ujar Aldi tiba-tiba.
  “Maksud kamu apa Di?” tanya Femii bingung.
  Rey kembali menepuk jidat Aldi. Bukannya marah malah Aldi mengedipkan matanya kearah Rey seakan-akan sedang mengisyaratkan sebuah hal penting. Rey membalas kedipan mata Aldi dengan mengancungkan jari jempolnya.
  Femi semakin bingung melihat tingkah dua orang pria yang ada didepannya. Pria yang satu sering melamun. Pria yang satu lagi senyum-senyum sendiri. Femii mengeleng-geleng kepalanya. Seketika dia tersentak ketika Aldi tiba-tiba berada tepat dihadapannya. Hanya berbeda beberapa senti lagi maka hidung mereka akan bertemu.
  “Fem, aku boleh bicara sesuatu ga?” Aldi membuka percakapan.
  “Mau bicara apa?” tanya Femii semakin bingung dengan Aldi.
  “Aku....”
  “Aku apa Aldi?” bentak Femii karena penasaran.
  Aldi menarik nafas dalam-dalam. Ini adalah peristiwa penting baginya dia tidak boleh sampai membuat kesan buruk.
  “Aku mau kamu jadi pacar aku Fem,” teriak Aldi sambil menutup matanya.
  “Aku sayang kamu.”
 Seketika Femii terkejut melihat itu. Untung dikelas itu cuma ada 3 orang kalau ada Salma pasti dia sudah marah. Femi terlihat bingung dengan pernyataan Aldi tadi.
  “Aldi kamu gimana sih, kamu udah ngelanggar janji persahabatan kita. Aku ga mau kita jadi terpecah gara-gara ini,” teriak Femii.

  Aldi berusaha mengingat janji itu. Dijanji tersebut jelas-jelas melarang sesama sahabat untuk menjalin hubungan. Bahkan yang membuat janji itu adalah Andi sendiri. Dengan lantang dia mengatakan persahabatan tidak boleh dirusak oleh sebuah hubungan gelap. Tetapi kali ini dia keluar dari janjinya tersebut.
  “Creck,” suara pintu terbuka.
 Seorang gadis kelihatan berlari kearah Aldi dan mengangkat tanganya untuk menampar Aldi. Tetapi seperti ada suatu hal yang menahan pukulan itu
  “Aku kecewa sama kamu Aldi. Kamu telah melanggar janji,” gadis itu mengeluarkan air matanya.
 “Salma, kamu gak akan ngerti.” Aldi berbalik marah kepada gadis yang ternyata sahabatnya itu.
 “Iya aku ga bakal ngerti tapi aku suka kamu Di,” Salma menangis dan segera keluar dari ruangan itu.
  Hanya dalam waktu yang singkat persahabatan yang indah pun hancur. Femii yang tak sanggup menahan air mata pun berlari mengejar Salma. Sedangkan Rey tetap tinggal diruangan itu dan menghampiri Aldi sambil menggelengkan kepalanya. Aldi merasa sangat hancur saat itu dia kehilangan Salma sahabatnya.
  ***
 “Creck,” suara pintu rumah Femii terbuka. Suara yang sama ketika Salma masuk secara tiba-tiba ke ruangan kelas yang sepi karena sudah jam pulang sekolah.
  Salma tertegun ketika melihat Aldi kembali bersama-sama dengan Femii. Tapi kali ini Salma tidak mengeluarkan ekspresi marah sedikitpun. Hanya senyuman yang keluar dari wajahnya.
  “Hai, Aldi dan Femi.” Sapa Salma dengan ceria. Tak sedikitpun rasa dendamnya timbul.
   “Kamu ga marah sama aku Sal?” tanya Aldi.
   “Ngapain marah Aldi, kita bukan anak SD lagi yang sering marah-marahan. Lagian aku setuju koq kalian bersama.” Salma menjawab dengan tenang.
   “Hah, serius Sal?” kali ini Femii bertanya.
   “Serius sahabatku.” Salma mencubit pipi tembem Femii.
  “Sekarang Femii jangan sedih lagi. Dan Aldi juga kita tetap sahabat. Femii harus cepat sembuh biar nanti sore kita bersama-sama ke taman.”
  “Oke,” jawab Femii dan Aldi serentak.
   “Kau adalah sahabat terbaik kami Sal.” Femii dan Aldi kembali serentak.
  Salma tertawa melihat Femii dan Aldi. Sungguh mereka sangat cocok.
  End