Ayo tuangkan ide dan tunjukkan kemampuan menulismu di Lomba Kreasi Cerpen Femii, Sahabat! Menangkan hadiah jutaan rupiah dan raih kesempatan menerbitkan tulisanmu menjadi buku kumpulan cerpen oleh NulisBuku.com. Jika kamu memiliki pertanyaan seputar teknis lomba, klik link syarat dan ketentuan di bawah ini!
Sahabat Terbaik
by: Vinca

Hari Minggu pagi yang cerah ini seharusnya adalah waktu yang menyenangkan untuk olahraga bersama sahabat terdekat. Sayangnya, hari ini Femii sedang tidak enak badan, perut dan punggungnya nyeri karena haid. Dia juga sedang bertengkar dengan sahabat terbaiknya, Salma. Setelah peristiwa satu minggu yang lalu, mereka sudah nggak bertegur sapa sama sekali.

Femii sedang berbaring di tempat tidur, saat bel pintu rumahnya berbunyi. Tak lama kemudian, ibu masuk ke kamar Femii memberitahukan bahwa ada seseorang datang menjenguk. Femii beranjak dari tempat tidur untuk menyambut tamu tersebut. Aldi tersenyum, di balik punggung ibu. Dia membawa beberapa buah tangan. Bukannya senang karena ada yang menjenguk, Femii justru cemberut.

"Semoga lekas sembuh ya, Femii," Aldi memberi salam ramah. "Kemarin di kelas sepi nggak ada kamu."

"Terima kasih Aldi. Aku senang kamu menjenguk dan mendoakanku. Sayangnya, aku nggak suka jika Salma sedih dan marah kepadaku karena tahu kamu menjengukku."

Aldi mengehela nafas dengan wajah tenang. "Aku tahu masalah kamu dengan Salma." Aldi memegang pundak Femii. "Nanti aku akan bantu menyelesaikan masalah kalian. Tapi yang pertama harus kita lakukan adalah menyembuhkan sakit yang kamu rasakan sekarang." Ucap Aldi sambil membimbing Femii untuk duduk di tempat tidurnya. Aldi kemudian menggeser kursi di dekat tempat tidur Femii, kemudian duduk dengan posisi berhadapan dengan cewek berparas manis itu.  
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku sedang sakit?" Tanya Femii.
"Aku tau dari ibuku. Tadi, waktu ibuku dan ibu kamu sedang berbelanja di tukang sayur di depan rumah, ibu kamu bercerita bahwa sejak kemarin kamu tidak keluar kamar dan tidak mau makan karena nggak enak badan dan perut kamu nyeri karena sedang haid. Pantas saja kemarin kamu nggak masuk sekolah."
"Oh, gitu. Duh, seharusnya ibuku gak perlu cerita sama ibu kamu." Ucap Femii memalingkan wajahnya menutupi rasa malu. 
"Kamu gak perlu malu, Femii. Itu hal yang wajar kok." Aldi tersenyum, kali ini senyum yang lebar. Memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih. 
Femii perlahan menatap kembali wajah Aldi. Ketulusan nampak dari wajahnya yang super cute itu. Femii pun tersenyum. Beberapa detik Femii sempat melupakan rasa nyerinya saat menatap cowok dihadapannya itu. 
"Oh iya, ini aku bawakan sesuatu buat kamu." Aldi menunjukkan bingkisan yang dibawanya. "Tadi aku sempat browsing di internet, makanan yang bisa mengurangi nyeri haid. Jadi aku belikan buat kamu beberapa yang gampang dicari. Ada pisang, dark chocolate dan susu. Semoga bisa mengurangi nyeri haid kamu." 
Femii menerima bingkisan dari Aldi dengan perasaan senang. "Makasih ya." 
"Sama-sama." Sahut Aldi. "Oh, iya. Tadi juga aku sempat ke toko obat. Aku tanya ke penjualnya obat untuk nyeri haid. Dia bilang feminax bagus untuk meredakan nyeri haid. Jadi aku belikan ini juga buat kamu. Jangan lupa diminum ya." Kata Aldi sambil mengeluarkan feminax dari kantong jaketnya dan memberikannya pada Femii. 
"Terimakasih banyak ya Aldi. Kamu perhatian banget sama aku. Aku nggak tau harus bilang apalagi." Ucap Femii dengan wajah berseri, walau masih terlihat lemah. 
"Iya. Kamu pasti juga sudah tahu kenapa aku perhatian sama kamu." Ucap Aldi tersenyum penuh makna. 
Femii merespon dengan tersenyum sambil menundukkan kepalanya. 
"Aku pulang dulu ya." Ucap Aldi sambil berdiri dari kursinya. "Jangan lupa makan setelah itu diminum obatnya." Tangan Aldi menyentuh kepala Femii dengan lembut. Hal itu kembali membuat Femii tersenyum. 
"Iya, pasti. Sekali lagi terimakasih, Aldi." Ucapnya. 

Sore harinya

Femii berjalan kaki sambil membawa sesuatu dengan kedua tangannya menuju sebuah rumah yang berjarak tak jauh dari rumahnya. Ia sekarang telah bediri di depan rumah dengan perpaduan warna coklat muda dan coklat tua bergaya minimalis. Ia mengetuk pintu rumah tersebut. Tak beberapa lama kemudian, mucul sosok Aldi dari balik pintu rumah.
"Femii? Kenapa kamu kesini? Kamu sudah sembuh?" Tanya Aldi dengan raut wajah terkejut.
"Sudah kok. Berkat obat yang kamu kasih tadi pagi. Aku sekarang sudah ngerasa baikan." Ucapnya.
"Syukurlah kalau begitu. Ayo masuk." Aldi mempersilakan Femii masuk ke dalam ruang tamu rumahnya yang cukup luas. 
"Kamu bilang kan kamu mau membantu aku untuk baikan dengan Salma. Sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu. Aku ngerasa nggak tenang selama seminggu ini. Salma sama sekali nggak mau berbicara denganku. Aku tahu itu semua salahku. Seharusnya Minggu lalu aku bersepeda berdua dengan Salma. Tapi aku malah meminta diajarkan main basket sama kamu. Kalau saja aku menemani Salma bersepeda, dia pasti nggak akan bersepeda sendirian dan terserempet mobil." Mata Femii berkaca-kaca.
"Sudahlah Femii.. Itu semua bukan salah kamu. Toh waktu itu kan Salma belum bangun tidur. Lagipula aku yang mengajak kamu main basket di lapangan komplek."
"Tapi seharusnya aku menunggu dia bangun tidur. Nggak seharusnya aku biarkan dia bersepeda sendiri. Dia pasti kesal karena aku sudah ingkar janji." Femii menundukkan kepalanya. "Lagipula, dia pasti sedih karena merasa kurang diperhatikan oleh kakak dan sahabatnya. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu bersama dan mengabaikan dia."
"Sudah saatnya dia berpikir lebih dewasa. Aku sudah menjelaskan dan memberi pengertian sama dia. Aku rasa dia sekarang sudah merasa lebih baik. Tadi juga sebenarnya dia yang menyuruhku menjenguk kamu." 
"Masa? Dia sudah nggak marah lagi sama aku? Bagaimana keadaannya? Apa tangannya masih sakit?" Wajahnya nampak cerah kembali. "Sebenarnya aku kesini membawakan ini. Aku dengar dikelasnya ada tugas untuk membuat prakarya dari koran bekas. Aku tahu tangannya sakit jadi beberapa hari ini aku membuatkan ini untuknya." Femii memperlihatkan benda yang dibawanya tadi. Dua buah boneka menyerupai dua orang gadis yang dibuat dari koran bekas yang dialasi sebuah kardus berlapis karton. Diatas karton itu tertulis "Best Friend Forever". 
Salma dan Femii memang bersekolah di sekolah yang sama, namun berbeda kelas. Usia mereka juga berbeda. Salma masih duduk di kelas 11 sedangkan Femii kelas 12. Namun mereka sudah bersahabat sejak masih kecil karena betetangga. Aldi, kakak Salma yang berjarak umur satu tahun setengah lebih tua darinya yang sekelas dengan Femii juga telah mengenal Femii sejak kecil.
Tak lama kemudian Salma muncul dari balik pintu kamarnya. Tangan kirinya berbalut perban. 
"Aku dengar semua obrolan kalian. Femii.. Maafkan aku." Ucapnya dengan raut wajah sedih.
Femii langsung beranjak dari sofa dan memeluk Salma. "Aku yang harusnya minta maaf. maafin aku Salma."
"Nggak, kamu nggak salah. Aku yang terlalu egois. Aku yang salah karena kecerobohanku sendiri, tapi malah menyalahkan kamu. Maafkan aku Femii." Ucap Salma sambil berurai airmata.
Aldi mendekati mereka berdua sambil tersenyum. "Sudahlah, yang penting sekarang kalian sudah baikan. Sahabat yang baik akan selalu memaafkan. Jangan berantem lagi ya." 
​​​​​​​